Literasi Sosial: Kondisi dan Permasalahan Lingkungan Hidup Akibat Pandemi Covid-19

Pendahuluan: Mengenal Pandemi Covid-19 dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Masyarakat

    Akhir bulan Desember 2019 menjadi awal perubahan kehidupan manusia diseluruh dunia akibat munculnya virus yang menyebabkan penyakit menular mematikan yang menyerang organ serta sistem pernapasan manusia. Penyakit ini pertama kali ditemukan di daratan Cina tepatnya di Kota Wuhan provinsi Hubei yang akhirnya menyebar dengan cepat keseluruh penjuru dunia. Secara resmi, Badan Kesehatan Dunia atau WHO pada tanggal 11 Februari 2020 mengumumkan bahwa penyakit menular di Wuhan ini sebagai Corona Virus Disease (COVID-19) yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Virus ini menular dengan cepat melalui manusia ke manusia hingga akhirnya menginfeksi lebih dari 190 negara termasuk Indonesia pada Maret 2020 (Amboro, 2020).

            Menanggapi penyebaran virus yang semakin meluas dengan cepat, pemerintah di seluruh dunia termasuk Indonesia kemudian segera memberlakukan berbagai kebijkan untuk meminimalisir terjadinya kontak sosial secara langsung yang dapat menyebabkan penularan virus semakin masif. Kebijakan yang dilakukan diantaranya menghentikan arus keluar-masuk orang dari luar ke dalam negeri maupun sebaliknya, memberlakukan lockdown atau karantina wilayah, memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowidodo untuk menanggapi situasi darurat kesehatan sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Ristyawati, 2020). Dampak dari diberlakukannya PSBB ini mempengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat seperti sosial, ekonomi, pariwisata, serta pendidikan memaksa masyarakat melakukan segala aktivitas kerja dan belajar dari rumah  (Amboro, 2020).

 Jaga jarak, Sumber: Ubaya.ac.id

            Pembatasan kegiatan sosial membuat masyarakat harus mengefektifkan kegiatan yang dilakukan diluar rumah sehingga berbagai aktifitas dan pelayanan publik dialih fungsikan secara digital. Selain diberlakukannya pembatasan aktivitas sosial di luar rumah, pemerintah juga menghimbau warga negara untuk menerapkan protokol kesehatan dengan melaksanakan 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak ketika beraktivitas di luar ruangan. Badan Kesehatan Dunia WHO menyarankan penggunaan masker medis dan respiratori diprioritaskan bagi tenaga kesehatan serta relawan yang berhadapan langsung untuk menanggulangi wabah virus Covid-19. Sementara bagi masyarakat umum pemakaian masker kain telah direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control/CDC) Amerika Serikat dan WHO (World Health Organization) kepada negara-negara di dunia termasuk Indonesia  (Atmojo et al., 2020). Hal ini dilakukan untuk mencegah kelangkaan masker medis dan masker disposable (sekali pakai) yang sempat terjadi di awal masa pandemi.

Bagaimana Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan?

1.       Perubahan kualitas udara di kota besar

Diberlakukannya kebijakan social distancingphysical distancing membuat aktivitas di luar ruangan oleh masyarakat di seluruh dunia berkurang. Selain karena diberlakukannya aturan jaga jarak, adanya pandemi membuat masyarakat juga enggan    untuk keluar rumah sehingga berbagai aktivitas industri dan transportasi mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan aktivitas industri dan transformasi selama beberapa waktu telah memberi dampak tersendiri pada lingkungan, hal ini terlihat dari terjadinya penurunan emisi karbon secara tiba-tiba di seluruh dunia selama pandemi berlangsung.

Berdasarkan data, perbaikan kualitas udara akibat penurunan emisi karbon selama karantina wilayah terjadi di berbagai kota di dunia salah satunya tingkat polusi udara di Kota New York, Amerika Serikat dilaporkan telah berkurang hampir 50% akibat upaya-upaya pembatasan kegiatan publik guna menekan penyebaran virus selama beberapa minggu. Sementara di China, terjadi trend penurunan emisi gas sebanyak 25% pada awal tahun 2020 akibat penutupan pabrik serta anjuran untuk tinggal di rumah. Negara lain seperti Italy dan Spanyol juga mengalami hal serupa. Laju penggunaan transportasi publik dan kendaraan peibadi yang menurun mengakibatkan uadara menjadi lebih bersih akibat sedikitnya emisi gas yang dihasilkan dari kendaraan.  Emisi gas dari transportasi yang kita gunakan sehari-hari telah berkontribusi sebanyak 72% pada emisi gas rumah kaca. Pemberlakukan pembatasan sosial telah memaksa masyarakat untuk mengurangi perjalan yang tidak perlu sehingga mengurangi penggunaan transportasi (Novrian, 2020).

Berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah sehingga meminimalisir penggunaan moda transformasi disisi lain juga tidak secara langsung mengurangi akumulasi gas rumah kaca di atmosefer, walaupun langit di kota-kota besar termasuk Jakarta terlihat lebih cerah dengan udara yang terihat lebih bersih. Menurut data yang dikeluarkan oleh NationalGeographic.id aktivitas emisi karbon dioksida masih meningkat sebesar 2,4 ppm hingga total terakumulasi sebesar 417,1 ppm selama masa pandemi akibat semakin meningkatnya titik api di seluruh dunia termasuk Indonesia. Jumlah titik api ini tidak dipengaruhi dengan ada atau tidaknya pandemi. Namun dilain sisi emisi gas nitrogen dioksida yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan juga dilaporkan berkurang sebanyak 7,2% pada awal tahun 2020 (National Geographic Indonesia, 2020)

2.      Pencemaran akibat limbah masker dan sarung tangan sekali pakai

Menjaga kebersihan diri dan menerapkan protokol kesehatan menjadi kebiasaan baru di era pandemi agar dapat mencegah penularan virus yang semakin masif. Salah satu kewajiban yang tidak boleh dilupakan ketika harus melakukan kegiatan di luar rumah yaitu menggunakan masker. Kewajiban menggunakan masker membuat permintaan dan produksi masker sekali pakai meningkat hingga berhasil mendistribusikan 8,7 juta pcs masker pada masyarakat di seluruh Indonesia pada Maret 2020 (Umah, 2020). Selain masker medis, penjahit masker kain juga mengalami peningkatan produksi hingga 200% sejak pandemi. Penggunaan masker medis, sarung tangan medis, ataupun masker sekali pakai sejatinya diprioritaskan bagi tenaga medis sedangkan masyarakat awam dapat menggunakan masker kain yang bisa dicuci sehingga dapat digunakan berkali-kali. Namun penggunaan masker sekali pakai tetap dipilih sebagian masyarakat karena dinilai lebih nyaman digunakan untuk bernapas daripada masker kain, selain itu masker sekali pakai dinilai lebih praktis karena bisa langsung dibuang setelah pemakaian.

Penggunaan masker dan sarung tangan sekali pakai yang meningkat di era pandemi membuat akumulasi limbah dari kedua barang tersebut kian menumpuk di alam. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bbc.com, Secara global sebanyak 129 miliar masker wajah dan 65 miliar sarung tangan plastik digunakan dan dibuang setiap bulannya (Chhabria, 2020). Sampah-sampah tersebut kemudian akan terakumulasi dan butuh waktu sekitar 450 tahun untuk dapat terdegredasi secara alami oleh tanah. Sampah tersebut juga dapat mencemari lautan dan membunuh bintang laut yang tidak sengaja memakan mikroplastik yang terdapat dalam masker dan sarung tangan plastik. Penyebab masker sekali pakai tidak mudah terdaur ulang secara alami karena masker ini menggandung plastik berjenis polypropelene.

Sampah masker di lautan, Sumber: Kompas.com, 2020

Timbunan sampah masker dan sarung tangan plastik akan menjadi bom waktu bagi lingkungan hidup dan kehidupan manusia di masa yang akan datang. Oleh karena itu diperlukan berbagai solusi untuk mencegah serta menanggulangi permasalahan sampah masker dan sarung tangan sekali pakai terutama di masa pandemi.

Solusi permasalahan

1.      Mengoptimalkan penggunaan masker kain bagi masyarakat umum. Penggunaan masker sekali pakai dan masker sejatinya harus diptimalkan hanya untuk tenaga medis, dengan membatasi penggunaan masker sekali pakai oleh masyarakat dapat mencegah kelangkaan masker medis dan sekaligus mengurangi jumlah sampah masker sekali pakai yang kebanyakan berbahan plastik.

2.      Mengedukasi masyarakat pentingnya penerapan aturan jaga jarak dengan tertib diluar kewajiban menggunakan masker. Walaupun penggunaan masker terutama masker medis sering dirasa masyarakat lebih aman melindungi pengguna dari virus, namun penerapan jaga jarak 1,5 meter antar orang tidak bisa diabaikan untuk meminimalisir penularan virus serta mengefektifkan penggunaan masker kain.

3. Penggunaan sarung tangan plastik sekali pakai oleh masyarakat umum dapat dikurangi dengan menggunakan sarung tangan latex yang bisa dicuci kembali setelah digunakan. Selain itu masyarakat dapat meningkatkan kebiasaan cuci tangan dan membawa handsanitizer yang dapat digunakan untuk membersihkan tangan sehabis menyentuh barang di luar rumah atau sebelum makan.

3.      Membuat inovasi, memproduksi, dan menggunakan masker sekali pakai dan masker medis yang ramah lingkungan (biodegreable). Selain dapat menciptakan evolusi digital yang baru, tidak menutup kemungkinanan pandemi covid-19 dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas masyarakat. Hingga saat ini beberapa produsen serta peneliti mulai mengembangkan masker sekali pakai tanpa kandungan plastik. Salah satunya di Prancis telah diproduksi secara masal masker sekali pakai berbahan tanaman hemp yang dapat terdegredasi secara alami di lingkungan dengan waktu yang singkat. Masker hemp ini telah diproduksi dan dipasarkan sebanyak 1,5 juta unit ke seluruh Eropa pada Maret 2020 (Weforum.org, 2020).

Pembuatan hem mask, sumber: Weforum.org, 2020


Daftar Pustaka

Amboro, K. (2020). Kontekstualisasi Pandemi Covid-19 dalam Pembelajaran Sejarah. Yupa: Historical Studies Journal. https://doi.org/10.30872/yupa.v3i2.203

Atmojo, J. T., Iswahyuni, S., Rejo, R., Setyorini, C., Puspitasary, K., Ernawati, H., Syujak, A. R., Nugroho, P., Putra, N. S., Nurrochim, N., Wahyudi, W., Setyawan, N., Susanti, R. F., Suwarto, S., Haidar, M., Wahyudi, W., Iswahyudi, A., Tofan, M., Bintoro, W. A., … Mubarok, A. S. (2020). PENGGUNAAN MASKER DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN COVID-19: RASIONALITAS, EFEKTIVITAS, DAN ISU TERKINI. Avicenna : Journal of Health Research. https://doi.org/10.36419/avicenna.v3i2.420

Chhabria, P. 2020. Coronavirus: 'The masks you throw away could end up killing a whale'. Diakses melalui: https://www.bbc.com/news/av/science-environment-53287940 pada 3 Januari 2021.

Kompas.com. 2020. Limbah Virus Corona: Lebih Banyak Masker daripada Ubur-Ubur di Lautan. Diakses melalui https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/21/114300865/limbah-virus-corona--lebih-banyak-masker-daripada-ubur-ubur-di-lautan?page=all pada 3 Januari 2001

National Geographic Indonesia. 2020. Langit Terlihat Bersih Selama Pandemi, Apakah Emisi Berkurang?. Diakses melalui https://nationalgeographic.grid.id/read/132211061/langit-terlihat-bersih-selama-pandemi-apakah-emisi-berkurang?page=all pada 3 Januari 2021.

Novrian, G. 2020. Dampak Covid-19 Terhadap Kondisi Lingkungan dan Alam. Diakses melalui link: http://lem.fkt.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2020/04/Kastratpedia-2.pdf pada 3 Januari 2020.

Ristyawati, A. (2020). Efektifitas Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Masa Pandemi Corona Virus 2019 oleh Pemerintah Sesuai Amanat UUD NRI Tahun 1945. Administrative Law and Governance Journal. https://doi.org/10.14710/alj.v3i2.240-249.

Ubaya.ac.id. 2020. Fakultas Hukum Ubaya Bedah Kebijakan PSBB, Ini hasilnya. Diakses melalui link: http://www.ubaya.ac.id/2018/content/news_detail/2909/Fakultas-Hukum-Ubaya-Bedah-Kebijakan-PSBB--Ini-Hasilnya.html pada 3 Januari 2021.

Umah, A. 2020. Lawan Corona, BUMN Ini Kebut Produksi 2 Juta Masker. Diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/market/20200319084008-17-145996/lawan-corona-bumn-ini-kebut-produksi-2-juta-masker pada 3 Januari, 2021.

Weforum.org, 2020. This France Firm is Making Biodegreable Face Mask Using Hemp. Diakses melalui link: https://www.weforum.org/agenda/2020/09/hemp-france-face-masks-coronavirus-covid-pandemic/ pada 3 Januari, 2021. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN: Kita Beragam, Kita Sederajat